Categories

Tampilkan postingan dengan label Ibrah Hidup. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ibrah Hidup. Tampilkan semua postingan

Minggu, 09 April 2017

Wawancara Eksklusif Bersama Mas Yesus

Ilustrasi
Ilustrasi
Ucok : Hai mas yesus, gimana kabarnya? Mau nanya nih... Anda ini sebenernya siapa sih, Tuhan atau Utusan Tuhan..?
Yesus : Bapa yang MENGUTUS Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu lihat." (Yohanes 5: 37).
Ucok : Tapi kok di-Tuhan-kan sama orang Kristen? Emang “utusan” derajatnya sama dengan “Yang Mengutus” ?
Yesus : Aku berkata kepadamu, Sesungguhnya SEORANG HAMBA TIDAKLAH LEBIH TINGGI DARI TUAN nya, ataupun seorang utusan dari pada Dia yang mengutusnya." (Yohanes 13: 16).
Ucok : Tapi anda masih dianggap Tuhan, gimana tuh mas?
Yesus : Bangsa ini memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya jauh dari pada-Ku. Percuma mereka beribadah kepada-Ku, sedangkan ajaran yang mereka ajarkan ialah perintah manusia." (Matius 15: 8-9).
Ucok : Weleh-weleh…. Katanya anda punya kuasa di surga mungkin karena itu anda di-Tuhan-kan mas…pendapat anda?
Yesus : Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; Aku menghakimi sesuai dengan apa yang Aku dengar, dan penghakiman-Ku adil, sebab Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku. (Yohanes 5: 30-31).
Ucok : Ok.. jelas sudah kalau anda bukan Tuhan dan hanya utusan, lantas siapa Tuhan yang benar itu sih mas?
Yesus : Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. (Markus 12: 28).
Ucok : Trus … siapa yang harus kita sembah mas..?
Yesus : Sebab tertulis, Engkau harus menyembah Tuhan, ALLAH-mu, dan hanya kepada Dia sajalah engkau berbakti. (Matius 4 :10).
Ucok : Bagaimana dengan umat yang beragama Kristen yang mati-matian menjadikan anda Tuhan?
Yesus: Pada waktu itulah Aku akan berterus terang kepada mereka dan berkata: Aku tidak pernah mengenal kamu! (Matius 7: 23).
Ucok: Jadi, Kristen itu seperti apa dalam pandangan mas Yesus?
Yesus: (Ada tertulis begini) beginilah firman Tuhan ALLAH: "TUHAN Yang Maha Tinggi, mengumumkan bahwa orang asing YANG TIDAK DISUNAT dan orang yang TIDAK TAAT kepada-Ku, tidak diperbolehkan masuk Rumah-Ku. Itu berlaku juga untuk orang asing yang tinggal menetap ditengah-tengah bangsa Israel." (Yehezkiel 44:9).
Ucok : Hmm…. menurut mas Yesus, apa sih yang membuat mereka tidak taat pada perintah Allah?
Yesus : Tuhan pernah berfirman: Mereka adalah ANAK-ANAK TOLOL dan tidak mempunyai pengertian! Mereka pintar untuk berbuat jahat, tetapi untuk berbuat baik mereka tidak tahu. (Yeremia 4: 22).
Ucok : Ok makasih mas atas waktu dan jawaban-jawabannya, mudah-mudahan mereka segera sadar! Amin
#copas

Kamis, 15 September 2016

Masalah Menyadarkanku

Anak Lombok
Anak Lombok
Baru sekarang ini saya merasakan hidup yang sebenarnya saat berbagai ujian datang menimpa. Rasanya saya baru punya kaki, baru punya tangan, baru punya kepala dan semua anggota tubuhku yang lainnya. Sebelumnya, sungguh saya belum merasakannya sama sekali.
Saat ini, saya berjalan, terasa kaki saya yang berdiri dan melangkah. Saya bekerja, terasa tangan saya yang menyentuh dan memegang. Saya pusing, terasa kepala saya yang tersenut-senut dan berputar. Sungguh saya benar-benar memiliki tubuh.
Benar kata orang bijak, dengan ujian seseorang akan tersadarkan keberadaan dirinya. Umur tidak selamanya menjadi faktor seseorang sadar akan dirinya tapi lebih karena faktor ujian yang diterimanya.
Mungkin itu yang saya rasakan saat ini, bertubi-tubi cobaan itu datang, silih berganti seiring pergantian hari. Memang berat terasa, tapi harus bagaimana lagi. Meratapinya tidak menyelesaikan masalah, menghindarpun tidak akan menghilangkan masalah. Masalah berganti masalah.
Kemarin, saya masih bisa menengadahkan tangan kepada orang tua. Saya masih bisa menyampaikan keinginan saya, masih bisa mengeluh dengan keadaan saya. Tapi apakah saya tega mengeluh diatas masalah yang sedang meraka hadapi juga. Yang mereka sendiri belum tentu bisa menyelesaikan masalah mereka sendiri dan saya yakin masalah mereka jauh lebih besar dari masalah saya.
Benar-benar saat ini saya memiliki tubuh saya sendiri. Mengurus, merawat, memeliharanya sendiri. Kalau mengurus diri sendiri saja belum bisa, apalagi kedenpannya. Memimpin keluarga, desa, camat, bupati, gubernur, presiden dan lain sebagainya. Terasa berat memang, tapi harus dicoba dan dilawan sampai bisa mengatasi setiap masalah dan selalu meminta kepada sang Khalik supaya diberikan kemudahan.
Awalnya, setiap saya menerima suatu masalah yang saya anggap berat. Pasti saya menyalahkan diri saya, kemudian meratapi setiap kejadian yang telah berlalu kemudian mengaitkannya dengan kejadian sekarang. Saya pun akhirnya kadang stress. Bermuka masam, menyendiri dikamar, tidak mau berbicara dan lain sebagainya. Namun setelah berlalu beberapa jam, baru terasa hati dan akal sehatku menyadari apa yang terjadi.
Tapi sekarang saya berusaha merubah kebiasaan-kebiasaan buruk tersebut dan tidak akan melakukannya lagi. Berfikir yang jernih, berhati yang bersih, insyaAllah diberikan kemudahan oleh Allah.
Bisa jadi seseorang berumur dewasa dan bahkan tua karena disebabkan faktor lingkungan keluarga yang serba berkecukupan sehingga menyebabkannya jarang tersentuh tantangan hidup yang menyebabkannya sangat terpuruk. Bisa jadi seseorang umurnya remaja bahkan masih kecil karena faktor keluarga dan lingkungan yang serba kekurangan dan penderitaan sehingga menuntut dirinya untuk berfikir keras dan bekerja lebih giat sehingga menjadikannya pribadi yang tangguh dan cekatan dalam menyelesaikan tiap masalah yang dihadapinya. Semakin banyak masalah yang menempa semakin membentuk dirinya menjadi pribadi yang tangguh dan lihai melihat peluang-peluang yang bisa dimanfaatkan dari masalah tersebut.


Selasa, 13 September 2016

Jangan Karena Dunia

 Nurul Hakim
Pimpinan Pon-Pes Nurul Hakim Kediri
Untaian indah dalam Hadits Qudsi yang mengingatkan kita supaya jangan khawatir ataupun terlena dengan kehidupan dunia dan supaya kita fokus mengisi hari-hari yang dijalani dengan beribadah kepada Allah SWT.
ويقول الحق سبحانه في الحديث القدسي:
«يا بن آدم؛ لا تَخَافنَّ من ذي سلطان؛ ما دام سلطاني باقياً؛ وسلطاني لا ينفد أبداً. يا بن آدم لا تَخْشَ من ضيق رزق؛ وخزائني ملآنة، وخزائني لا تنفد أبداً. يا بن آدم خلقتك للعبادة؛ فلا تلعب، وضمنت لك رزقك فلا تتعب، فَوَعِزَّتي وجلالي إن رضيت بما قسمتُه لك أرحتُ قلبك وبدنك؛ وكنتَ عندي محموداً؛ وإن أنت لم ترض بما قسمتُه لك؛ فوعزتي وجلالي لأسلِّطنَّ عليك الدنيا، تركض فيها ركض الوحوش في البرية؛ ثم لا يكون لك منها إلا ما قسمته لك. يا بن آدم خلقت السموات والأرض ولم أعْيَ بخلقهنَّ؛ أيعييني رغيف عيش أسوقه لك؟ يا بن آدم لا تسألني رزق غد كما أطلب منك عمل غدٍ. يا بن آدم أنا لك مُحِبٌّ؛ فبحقي عليك كنْ لي مُحِبّاً»
تفسير الشعراوي في شرح سورة هود (وَاسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ ثُمَّ تُوبُوا إِلَيْهِ إِنَّ رَبِّي رَحِيمٌ وَدُودٌ

Minggu, 10 April 2016

Merasakan Yang Tak Berasa

Rumah Sepi
Rumah Sepi

Dari kejauhan saya melihat sebuah rumah yang bentuknya tidak terlalu besar dan juga megah. Ia sederhana dan meneduhkan. Hingga akhirnya saya berniat untuk mendatanginya. Kaki saya mulai melangkah, tangan saya berayun mengikuti irama kaki, mata saya menatap lurus, badan saya tegap lurus menghadapnya dan bahkan hati saya terpokus sepenuhnya. Semakin dekat kaki ini melangkah semakin hati ini berdebar. Sungguh meneduhkan. Mata dan fikiran ini memperhatikannya dengan seksama hingga akhirnya ia terfokus pada pintu rumah. Pintunya terbuka lebar. Bibir saya mengembang pertanda ada secercah harapan di hati. Dengan hati berat lisan saya mengucapkan salam, dengan harapan sang penghuni rumah berkenan menjawab dan menemui saya di luar. “Assalamu’alaikum.” Sepi... berkali-kali saya mengulang salam namun tetap saja tidak ada jawaban. Saya pun duduk termenung. apa iya rumah yang rapi dan teduh ini tak berpenghuni?? Halamannya yang bersih dan tertata rapi menggambarkan bagaimana penghuni rumah ini sendiri. Sungguh saya terkesan. Lama saya duduk kemudian kembali mengulang salam, namun belum juga ada jawaban. Hingga akhirnya saya mencoba mengambil kesimpulan, mungkin penghuninya sedang mempersiapkan sesuatu di dalam sehingga ia belum keluar, kata hati saya menghibur diri. Harapan pun timbul kembali. Saya masih duduk manis menunggu.
Waktu terus berjalan, hingga tak terasa berapa lama saya duduk di luar. Perlahan saya bangun sambil meregangkan sendi-sendi tubuh saya yang mulai pegal kemudian beranjak ke pintu mengucap salam. Sunyi. Sepi. Lagi-lagi tidak ada jawaban. Pikiran saya mencoba menerawan, kalau memang ia mempersiapkan sesuatu. Apa ia selama ini?? Kalau hanya mempersiapkan hidangan, saya rasa tidak perlu berjam-jam, berhari-hari, berminggu-minggu, apalagi berbulan-bulan. Cukup beberapa menit saja. Dan juga persiapkan apa yang ada saja. Itu cukup. Tidak perlu berlebih-lebihan, karena saya pun sebagai tamu sudah punya persiapan perbekalan tanpa harus merepotkan penghuni rumah sepenuhnya. Ah.. andaikan si penghuni rumah keluar sebentar saja. Saya akan bilang tidak perlu repot-repot mempersiapkan sesuatu. Saya ini biasa-biasa saja. Saya bukan pejabat yang butuh penyambutan luar biasa. Saya hanya orang biasa sebagaimana umumnya. Tapi sayang, ia belum juga muncul keluar.
Tak terasa matahari semakin condong ke barat. Hari sudah semakin sore. Hati saya menjadi cemas. Berbagai macam pertanyaan berseliweran di kepalaku. Semakin lama semakin terasa detik waktu yang ku lalui. Dengan hati penuh harap saya kembali menuju pintu mengucap salam. Tiba-tiba lampu teras menyala, beriringan dengan nyalanya lampu halaman. Saya lihat dari luar ruang depan, lampu kamar rumah itu dinyalakan. Suasana menjelang malam menjadi terang benderang menggantikan sinar matahari yang mulai meredup. Saya yang sudah sejak lama menunggu semakin yakin bahwa rumah ini berpenghuni. Ya ia berpenghuni.
Kali ini saya semakin takjub melihat rumah itu. Dengan kesederhanaannya membuat hati saya menjadi tenang. sedikit demi sedikit hawa damai menyelimuti hatiku. Saya mencoba merasakannya meskipun fikiranku masih bertanya-tanya.
Gelap benar-benar menutupi petala langit. Sinar matahari sudah tak menyisakan bias di ufuk barat. Satu persatu bintang gemintang mulai menampakkan diri berkelap-kelip bak mutiara. Hanya ada sedikit awan pekat mengambang diatas timur sana. Ada apa dengan awan itu? Saya kembali duduk sambil mengamati awan itu. Sepertinya ia enggan pergi dari posisinya. Itu telihat dari pergerakannya yang begitu lamban. Lamban sekali. Namun saya terus menatapnya memperhatikan pergerakannya. Beberapa menit kemudian, baru saya faham. Ternyata dibalik awan pekat itu ada rembulan setengah sempurna malu-malu menampakkan diri. Duh ia begitu indah dan manis. Meskipun dengan ketidaksempurnaannya, ia mau menyapa dunia yang sangat membutuhkannya. Kekurangan bukan alasan baginya untuk berbagi cahayanya. Bila menunggu kesempurnaan maka itu membutuhkan waktu yang cukup lama. Dan bila ia telah sempurna, maka kesempurnaannya hanya terjadi dalam waktu yang singkat. Hanya satu malam saja, jika dibandingkan dengan ketidaksempurnaanya yang terjadi selama hampir sebulan penuh. Mungkin perinsipnya ketidaksempurnaan bukan alasan untuk tidak berbuat baik dan berbagi.
Beberapa saat saya tertegun menatapnya, kemudian pandangan saya beralih ke rumah yang sudah sejak lama saya tunggu penghuninya menampakkan diri. Belum juga muncul. Kemudian kembali melihat bulan. Kembali melihat rumah. Terus berulang sampai beberapa kali. Hati saya berkata, alangkah mulianya orang yang memiliki sikap seperti bulan. Ia berbagi dan terus berbagi, bahkan ia tak berharap untuk dihargai. Tanpa kusadari mata saya basah. Ada cairan bening menggenang di area lensa mataku. Saya terharu dan takjub. Ternyata masih ada mahluk-Nya yang memiliki sifat yang begitu luhur disaat sebagian mahluk sudah tidak memilikinya. Mungkin jumlahnya banyak namun tidak saya sadari keberadaannya.
Rabbi! Jadikanlah hambamu ini menjadi hambamu yang bersyukur atas nikmat yang terlah engkau datangkan dan yang akan engkau datangkan. Dan jangan engkau jadikan hamba menjadi orang yang mengabaikan segala nikmat yang telah engkau limpahkan kepada hamba.
Waktu terus berlaku. Malam semakin larut. Saya melongo jam tangan yang menempel di tangan kanan saya. Jarum jam menunjukkan jam 10.00. setelah lama duduk menanti namun tetap saja belum ada kepastian, saya bangun sambil menggerak-gerakkan bahu dan pinggulku yang mulai ngilu. Mataku kembali menatap lekat-lekat rumah itu. Meskipun terlihat terang, lama-kelamaan menjadi terasa benar-benar sunyi dan sepi. Hawa dingin malam mulai meraba pori-pori kulitku. Hatiku mulai berbisik-bisik, “mungkin penghuni rumah itu tidak berkenan dengan kedatangan kamu. Atau mungkin ia tidak ada waktu untuk menemui kamu. Sudahlah, kamu jangan paksa diri sendiri. Gak baik.” Kata hatiku. “jangan paksa orang lain, sebagaimana kamu juga tidak ingin dipaksa.” Tambahnya lagi. Setelah hati berkutat, bergejolak, berperang dengan kesendiriannya. Sampailah ia pada satu titik.
Saya mulai merapikan perbekalan yang saya bawa. Saya kemas semuanya menjadi satu. Saya bersiap-siap untuk membalikkan badan. Saat kaki ini hendak melangkah, terasa begitu berat. Ia bagaikan telah mengakar di tempat ini. Sulit untuk dicabut. Akarnya telah menjalar kemana-mana. Sesaat saya berdiri diam. Kepala saya menoleh ke belakang ke arah pintu, tetap saja seperti semula. Perlahan hati saya membujuk sang kaki agar berjiwa besar atas apa yang dialami waktu itu. Apa yang diharapkan belum tentu akan dicapai. Apa yang diinginkan belum tentu akan terlaksana. Disinilah ikhlas berperan, kata hatiku.

Lambat laun kakiku sudah mulai terangkat dan melangkah satu demi satu. Perlahan sambil melangkah, kepala ini tetap menoleh ke belakang, mungkin-mungkin ada seseorang keluar memanggil saya. Namun sampai jarak ini tak terukur bentangan talipun, belum ada yang keluar. Mungkin ia takkan keluar.     

Kamis, 26 November 2015

Ku Curi Hatinya

Logo
Nur Muslih Logo
Seorang pencuri masuk ke rumah Malik Bin Dinar R.A. Sambil mengendap-endap ia mencari-cari sesuatu untuk dicuri namun dia tidak mendapatkan apa-apa disana karena Malik Bin Dinar adalah orang yang terkenal dengan kezuhudannya. Setelah keliling kesana kemari di dalam rumah, pencuri itu akhirnya melihat Malik Bin Dinar sedang mendirikan Sholat. Selesai Sholat Malik Bin Dinar mengetahui keberadaan pencuri itu dan melihatnya, kemudian beliau berkata kepadanya:
"Kamu datang kesini untuk mencari barang-barang dunia dan kamu tidak mendapatkannya. Apakah kamu berminat dengan barang-barangnya Akhirat?"
Pencuri heran, bukannya dimarahin karena sudah memasuki rumahnya diam-diam tapi malah disapa baik-baik. Pencuri itupun duduk didekat Malik bin Dinar sambil penasaran apa yang dimaksud dengan barang-barangnya akhirat itu.
Lalu mulailah Malik Bin Dinar menasihatinya dengan bijak hingga pencuri itu menangis menyesali perbuatannya dan kemudian bertobat dari profesi sebagai pencuri. Setelah pencuri itu benar-benar menyadari dan insyaf dari perbuatannya, mereka berdua bersamaan pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat. Ketika sampai di masjid orang-orang tercengang melihat mereka berdua sambil berkata:
"Ulama besar jalan bersama Pencuri besar? Masuk akalkah ini?"
Orang-orang tidak percaya dengan yang dilihat dan menanyakan hal itu, bagaimana bisa terjadi, lalu Malik Bin Dinar menjawab :
"Dia datang mau mencuri barangku, maka kucuri Hatinya".

Disadur dari status Faceebook

Kamis, 22 Oktober 2015

Haram Buat Tuan Tapi Halal Buat Kami

Masjid Muqoddasah
Masjid Muqoddasah
Seorang ulama terkenal di Makkah bernama Abu Abdurrahman Abdullah bin al-Mubarak al-Hanzhali al Marwazi menceritakan satu kisah perjalanan hidupnya yang sangat membekas pada dirinya.
Suatu ketika, setelah selesai menjalani salah satu ritual haji, ia beristirahat dan tertidur. Dalam tidurnya ia bermimpi melihat dua malaikat yang turun dari langit. Ia mendengar percakapan mereka,
“Berapa banyak yang datang tahun ini?” Tanya malaikat kepada malaikat lainnya.
“Tujuh ratus ribu.” Jawab malaikat lainnya.
“Berapa banyak dari mereka yang ibadah hajinya diterima?”
“Tidak satupun.”
Percakapan ini membuat Abdullah bin Mubarak gemetar.
“Apa?” ia menangis dalam mimpinya.
“Semua orang-orang ini telah datang dari belahan bumi yang jauh, dengan kesulitan yang besar dan keletihan di sepanjang perjalanan, berkelana menyusuri padang pasir yang luas dan semua usaha mereka menjadi sia-sia?”
Sambil gemetar, ia melanjutkan mendengar cerita kedua malaikat itu.
“Namun ada seseorang, yang meskipun tidak datang menunaikan ibadah haji, tetapi ibadah hajinya diterima dan seluruh dosanya telah diampuni. Berkat dia seluruh haji mereka diterima oleh Allah.”
“Kok bisa.”
“Itu Kehendak Allah.”
“Siapa orang tersebut?”
“Sa’id bin Muhafah, tukang sol sepatu di kota Damsyiq (Damaskus sekarang)”
Mendengar ucapan itu, ulama itu langsung terbangun. Sepulang haji, ia tidak langsung pulang kerumah, tapi langsung menuju kota Damaskus, Siria.
***
Sampai di Dameskus Abdullah bin Mubarak langsung mencari tukang sol sepatu yang disebut Malaikat dalam mimpinya.
Hampir semua tukang sol sepatu ditanya, apa memang ada tukang sol sepatu yang namannya Sa’id bin Muhafah.
“Ada. Dia tinggal ditepi kota” Jawab salah seorang sol sepatu sambil menunjukkan arahnya.
Sesampai disana ulama itu menemukan tukang sepatu yang berpakaian lusuh.
“Benarkah anda bernama Sa’id bin Muhafah?” tanya Ulama itu.
“Betul. Tuan siapa?”
“Saya Abdullah bin Mubarak”
Said pun terharu karena dikunjungi oleh seorang ulama terkenal yang tidak pernah ia sangka akan mengunjunginya.
"Bapak adalah ulama terkenal, ada apa mendatangi saya?”
Sejenak Ulama itu kebingungan, dari mana ia memulai pertanyaannya. Akhirnya iapun menceritakan perihal mimpinya.
“Saya ingin tahu, adakah sesuatu yang telah anda perbuat, sehingga anda berhak mendapatkan pahala haji mabrur?” Tanya Abdullah bin Mubarak setelah menceritakan mimpinya.
“Wah.. saya sendiri juga tidak tahu!”
“Coba ceritakan bagaimana kehidupan anda selama ini"
Maka Sa’id bin Muhafah bercerita.
“Setiap tahun, setiap musim haji, saya selalu mendengar :
Labbaika Allahumma labbaika.
Labbaika la syarika laka labbaika.
Innal hamda wanni’mata laka wal mulka.
laa syarika laka.
Ya Allah, aku datang karena panggilanMu.
Tiada sekutu bagiMu.
Segala ni’mat dan puji adalah kepunyanMu dan kekuasaanMu.
Tiada sekutu bagiMu.
“Setiap kali aku mendengar itu, aku selalu menangis.”
Ya allah aku rindu Mekah
Ya Allah aku rindu melihat kabah
Ijinkan aku datang
ijinkan aku datang ya Allah
“Oleh karena itu, sejak puluhan tahun yang lalu setiap hari saya menyisihkan uang dari hasil kerja saya sebagai tukang sol sepatu. Sedikit demi sedikit saya kumpulkan. Akhirnya pada tahun ini, saya punya 350 dirham, cukup untuk saya berhaji.”
“Saya sudah siap berhaji”
“Tapi anda batal berangkat haji.” Tanya Abdullah bin Mubarak.
“Benar”
“Trus apa yang terjadi sehingga tidak jadi berangkat?”
“Istri saya hamil dan sering ngidam. Waktu saya hendak berangkat saat itu dia ngidam berat.”
“Suami ku, engkau mencium bau masakan yang nikmat ini?”
“Ya sayang.”
“Cobalah kau cari, siapa yang masak sehingga baunya nikmat begini. Mintalah sedikit untukku.”
"Sayapun mencari sumber bau masakan itu. Ternyata berasal dari rumah yang hampir runtuh. Disitu ada seorang janda dan enam anaknya. Saya bilang padanya bahwa istri saya ingin masakan yang ia masak, meskipun sedikit. Janda itu diam saja memandang saya, sehingga saya mengulangi perkataan saya. Akhirnya dengan perlahan ia mengatakan,
“Tidak boleh tuan.”
“Dijual berapapun akan saya beli.”
“Makanan itu tidak dijual, tuan.” Katanya sambil berlinang air mata.
Akhirnya saya tanya, kenapa?
Sambil menangis, janda itu berkata “Daging ini halal untuk kami dan haram untuk tuan.” katanya.
Dalam hati saya: Bagaimana ada makanan yang halal untuk dia, tetapi haram untuk saya,
padahal kita sama-sama muslim? Karena itu saya mendesaknya lagi “Kenapa?”
Dengan sungkan janda itupun bercerita, 
“Sudah beberapa hari ini kami tidak makan. Dirumah tidak ada makanan. Hari ini kami melihat keledai mati, lalu kami ambil sebagian dagingnya untuk dimasak. Bagi kami daging ini adalah halal, karena andai kami tak memakannya kami akan mati kelaparan. Namun bagi Tuan, daging ini haram".
Mendengar ucapan tersebut spontan saya menangis, lalu saya langsung pulang.
Saya ceritakan kejadian itu pada istriku, diapun menangis. Kami akhirnya memasak makanan dan mendatangi rumah janda itu.
“Ini masakan untuk mu.”
"Uang peruntukan Haji sebesar 350 dirham pun saya berikan pada mereka semuanya.” 
"Pakailah uang ini untuk mu sekeluarga. Gunakan untuk usaha, agar engkau tidak kelaparan lagi”
Ya Allah disinilah Hajiku
Ya Allah disinilah Makahku.
Mendengar cerita tersebut Abdullah bin Mubarak tak bisa menahan air matanya. Beliau terharu dengan keikhlasan dan pengorbanan yang diberikan tukang sol sepatu tersebut kepada saudaranya sesama muslim.


Dalam kitab Irsyadul Ibad Ila Sabiila Rosyad. (Dikutip dari laman Facebook)

Senin, 18 Mei 2015

Merindukanmu kembali


Hatiku
Hatiku
mengapa selalu kembali pada satu titik hitam yang beracun
kenapa selau terulang kembali
sekarang berkata insyaf
nanti kembali lagi
lagi berkata insyaf
tak lama terulang lagi
hati saya berkata, ‘saya faham dengan masalah saya’
tapi saya tidak tahu fahamnya seperti apa namanya
faham yang tidak menjadikannya benar-benar insyaf
insyaf dikala insyaf, tapi dikala insyaf tiada, kembali lagi
insyafnya hanya beberapa menit saja
insyafnya tak berwarna
akankah karena dosa yang sudah sangat bergitu tebal
hingga semua insyaf tak berbekas
dosa-dosa itu mengarat kuat melapisi dinding cahaya
cahayanya redup tertutup lempengan-lempengan hitam
cahaya ituterus meredup
hingga ia seperti titik putih pada lumpur hitam yang menyamudra
saya yakin cahaya itu tidak akan padam walaupun ia hanya setitik
ia hanya menunggu sebuah asa kuat yang mengusapnya
hingga akhirnya ia kembali terang menyinari semua kegelapan

hatiku saya rindu keinsyafan abadimu 

Jumat, 15 Mei 2015

Prediksi Iman

Dua Rupa
Antara Dua Rupa

Setidaknya dari ucapan seseorang kita bisa membaca tingkat keimanan seseorang. Walaupun tidak seratus persen benar, namun bisa menjadi acuan standar dari kuat atau berkurangnya iman seseorang. Sebagai contoh dari statement saya ini adalah, ketika anda menanyakan kepada seseorang suatu pertanyaan, pasti jawaban mereka bermacam-macam, contoh pertanyaan: ‘Kenapa gak sholat ke masjid tadi?’. Dari pertanyaan ini, orang akan berbeda-beda jawabannya. Kira-kira diantara jawaban mereka adalah sebagai berukut:
o  Tadi saya ketiduran. Saya gak dengar suara azan, makanya gak ke masjid.
o  Ada kerjaan tadi. Tapi sudah saya shalat di rumah.
o  Iya, saya keendakan main-main tadi sama teman.
o  Sholat jamaah itu kan sunnah. Jadi boleh sholat sendirian di rumah.
o  Saya lagi malas. Saya sudah shalat di rumah.
o  Shalat itu kan, gak wajib. Jadi kamu gak perlu nanya-naya gitu dah.
Dari sekian pernyataan ini, setidaknya pembaca bisa memprediksi tingkat/kualitas keimanan seseorang. Apa yang diucapkan oleh lisan seseorang adalah gambaran dari apa yang ada di dalam hati, dalam hal ini adalah keimanan. Dari jawaban pertama hingga akhir, bisa diprediksi bahwa jawaban pertama menunjukkan keimanan seseorang masih kuat. Sedangkan jawaban terahir menunjukkan tidak adanya keimanan seseorang. Sedangkan jawaban yang lainnya bisa diprediksi sendiri. 
Sekali lagi penulis tergaskan bahwa, ini bukan setandar mutlak. Namun ini salah satu cara mengetahui ukuran keimanan seseorang. Kita juga tidak bisa menjudge tingkat keimanan seseorang hanya berdasarkan ucapannya. Namun perlu pembuktian yang lain juga sehingga dasar penjudge-annya kuat. Ini hanya penilaian pribadi kepada seseorang atau pada diri kita sendiri saat menemukan pertanyaan semisal.
Dalam masalah-masalah yang lain pun kita bisa membaca kondisi, watak atau keperibadian seseorang dari ucapannya sehari-hari.


(view inspiration, Allahumma tsabbit qulubana ‘ala syukrika wa tho’atika)

Tersadar Kembali


Perpustakaan
Perpus UNIDA Gontor
Hampir setiap hari saya berusaha untuk belajar dan belajar. Setelah belajar atau membaca, saya berusaha untuk menggoreskan polpen saya di kertas atau langsung menulis di lebtob, namun hasilnya tetap mentok, mentok dan mentok. Berulang kali saya melakukan hal yang sama, tapi hasilnya tidak jauh berbeda. Saya merasa putus asa dan stress dengan aktifitas saya yang tidak pernah mengalami perkembangan dan kemajuan.
Saya teringat dengan masa lalu yang telah saya jalani. Saya mulai menyalahkan diri saya, menyalahkan keadaan, menyalahkan keluarga saya, menyalahkan sekolah saya, menyalahkan orang dan lain sebagainya.. Terlintas dalam pikiran sempit saya, ‘seandainya dulu saya tidak disana/seandainya saya tidak dalam kondisi ini, dan andai-andai yang lainnya. Saya pun menyesali dan meratapi nasip saya sendiri, hingga saya terpaku dan terlena dalam ratapan saya sendiri.
Memang berat untuk berhenti mengingatnya, karena kelitannya itulah sumber dari semua keadaan yang membuat saya terpuruk dan terkapar ini. Namun serasa saya tersadar kembali akan diri saya sendiri. Menyadari hakikat hidup yang sebenarnya pernah saya dapatkan dan fahami, tapi terkalahkan oleh memori kehidupan masa lalu.
Mendengar ceramah Ust. Dr. H. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi menyadarkan saya kembali akan kehidupan ini. Terlalu sering saya menimbang dan mengukur kehidupan ini dengan akal dan hitungan materi atau fisik. Saya keseringan melihat orang yang lebih (kemampuan/materi) dari saya dari pada melihat diri saya sendiri kemudian membenahi. Pikiran saya terlalu menrasionalkan kondisi sehingga menjadikan segala sesuatu menjadi seolah-olah tidak mungkin untuk saya lakukan. Saya selalu mengukur kondisi diri saya dengan kondisi orang lain. Sehingga yang terpikir adalah sulit dan bahkan gak mungkin untuk sampai ketujuan yang dicita-citakan.
Lebih memprihatinkannya lagi, saya lupa dan tidak menyadari sekaligus masih meragukan” akan ke Maha Agungan Sang Pencipta yang pengatur segala-galanya yaitu, Allah SWT. Sekali lagi, saya terlena dan terbuai oleh pikiran sempit saya sehingga saya lupa bahwa ada Dia diatas alam jagat raya ini beserta isinya. Astagfirullahal’adziim…
Diantara bentuk kelupaan dan keraguan tersebut adalah ketika berdo’a, hampir semuanya dalam keadaan ragu dengan do’a yang dipanjatkan, alias kurang meyakini akan terkabulnya do’a tersebut. Masih ada banyang-banyang ketidakmungkinan yang digemboskan oleh pikiran saya sehingga saya kurang berharap akan terkabulnya do’a saya. Ketika beribadah – khususnya shalat – fardu, saya dalam keadaan sadar atau tidak sadar dengan ibadah saya. Apakah ini sekedar rutinitas untuk menghilangkan kewajiban saja atau memang bentuk penghambaan saya kepada Allah di karenakan kelemahan dan kekurangan saya. Iya, saya sadar dengan ibadah saya, tapi saya tidak menyadari hakikat dari ibadah saya ditambah lagi kurang meyakini dampak dari ibadah itu terhadah hidup saya. Kembali saya tersadarkan dengan ceramah Ust. Dr. H. Ahmad Hidayatullah Zarkasyi..
Ceramahnya simpel sebenarnya, namun menyadarkan saya akan ke Maha Agungan Allah Subhanahuwata’ala. Diantara yang disinggung beliau juga adalah orang islam yang tidak meyakini kekuatan do’a adalah orang islam yang sangat picik dan sempit hati dan pikirannya. Banyak bukti nyata yang sudah merasakan kekuatan do’a. orang yang awalnya masalah dalam hidupnya, karena do’a yang dipanjatkannya dengan penuh keyakinan dan terus-menerus melakukannya, sehingga masalahnya terselesaikan. Tentunya tidak terlepas dari usaha sungguh-sungguh untuk berkerja setelah berdo’a. Ada juga orang yang selalu berdo’a, kemudian usahanya cuman sekedarnya saja, tapi semua masalahnya terselesaikan. Ini juga disebabkan karena berkah do’a. bahkan ada juga orang yang hanya berdo’a saja dengan terus menerus tanpa berusaha dan masalahnya terselesaikan. Ini juga berkah dari do’a. intinya Allah SWT menyuruh kita untuk banyak-banyak berdo’a kepada-Nya, karena Dia-lah yang memungkinkan yang tidak mungkin dan mengadakan yang tidak ada.
Terakhir, setiap usaha, baik itu belajar, bekerja mencari rizki dan lain sebagainya, hendaklah diawali dengan keyakinan akan diberikan kemudahan oleh Allah. Kemudian barengi ia dengan keikhlasan dan kesabaran dalam melakukannya. Ketika seseorang belum mendapatkan apa yang diharapkan, berarti ia harus menunggunya dengan melalui/menjalani proses yang mesti dilaluinya, oleh karena itu kesabaran harus tetap dipupuk dalam diri kita.

(paska pusing memikirkan tesis. Jum’at malam, 15-05-2015)


Rabu, 01 April 2015

Al-Fatih (Sang Penakluk)

Suasana Pantai
Suasana Pantai 

Sekitar delapan abad kemudian, salah satu bisyaroh (bukti) nubuwah tersebut mampu diwujudkan oleh seorang hamba Allah yang bernama Muhammad Al Fatih atau Mehmed II, yang merupakan seorang Sultan ke-7 dari Kesultanan Turki Ustmani beserta sekitar 250.000 orang tenteranya. Keberhasilannya menaklukkan Konstatinopel membuatnya diberi gelar Al-Fatih. Berasal dari kata: fataha – yaftahu. Artinya membuka atau membebaskan. Sultan Muhammad Al Fatih menaiki takhta ketika berusia 19 tahun dan memerintah selama 30 tahun (1451 – 1481).
Kota konstatinopel atau disebut juga Byzantium (kini disebut Istanbul) adalah kota yang memiliki pesona yang kuat pada masa itu. Letaknya sangat strategis, yaitu di batas antara Eropa dan Asia. Bagian daratnya merupakan salah satu bagian dari Jalur Sutera, sedangkan di bagian lautnya, daerah ini berada di antara Laut Tengah dengan Laut Hitam. Pesonanya ini membuat banyak bangsa pada masa itu mengincarnya. Banyak ekspedisi-ekspedisi yang telah dilakukan, namun benteng Konstatinopel tetap tidak tertembus.
Konstantinopel merupakan salah satu kota terbesar dan benteng terkuat di dunia saat itu, dikelilingi lautan dari tiga sisi sekaligus, yaitu selat Bosphorus, Laut Marmarah dan Tanduk Emas yang dijaga dengan rantai yang sangat besar, hingga tidak memungkinkan untuk masuknya kapal musuh ke dalamnya. Di samping itu, dari daratan juga dijaga dengan pagar-pagar sangat kokoh yang terbentang dari laut Marmarah sampai Tanduk Emas. Memiliki benteng setinggi 60 kaki, sedangkan pagar bagian luarnya memiliki ketinggian 25 kaki. Selain itu juga terdapat tower-tower pemantau yang terpencar dan dipenuhi tentara pengawas. Dari segi kekuatan militer, kota ini dianggap sebagai kota yang paling aman dan terlindungi, karena di dalamnya ada pagar-pagar pengaman, benteng-benteng yang kuat dan perlindungan secara alami. Dengan demikian, maka sangat sulit untuk bisa diserang atau ditaklukkan. Kedudukan Konstantinopel yang strategis diillustrasikan oleh Napoleon Bonaparte; ".....kalaulah dunia ini sebuah negara, maka Konstantinopel inilah yang paling layak menjadi ibukota negaranya!".
Para khalifah dan pemimpin Islam pun selalu berusaha menaklukkan Konstantinopel. Di zaman Mu'awiyah bin Abi Sufyan Radhiallahu 'Anhu pernah dilakukan ekspedisi namun gagal. Di masa shahabat, memang pasukan muslim sudah sangat dekat dengan kota itu, bahkan salah seorang shahabat yang menjadi anggota pasukannya dikuburkan di seberang pantainya, yaitu Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahuanhu. Tetapi tetap saja kota itu belum pernah jatuh ke tangan umat Islam sampai 800 tahun lamanya.
Abu Ayyub Al-Anshari berkata,"Aku mendengar baginda Rasulullah SAW bersabda bahwa ada seorang lelaki shalih akan dikuburkan di bawah tembok tersebut, Dan aku juga ingin mendengar derap tapak kaki kuda yang membawa sebaik-baik raja, yang mana dia akan memimpin sebaik-baik tentara seperti yang telah diisyaratkan oleh baginda".
Upaya yang sama juga dilakukan pada zaman Khilafah Umayyah, pemerintahan Abbasiyyah, dan oleh kerajaan-kerajaan kecil di Asia Timur (Anatolia) terutama Kerajaan Seljuk.
Awal kurun ke-8 hijriyah, Daulah Utsmaniyah mengadakan kesepakatan bersama Seljuk. Kerjasama ini memberi napas baru kepada usaha umat Islam untuk menguasai Konstantinopel. Usaha pertama dibuat di zaman Sulthan Yildirim Bayazid saat dia mengepung bandar itu tahun 796 H/1393 M. Peluang yang ada telah digunakan oleh Sultan Bayazid untuk memaksa Kaisar Bizantium menyerahkan Konstantinopel secara aman kepada umat Islam. Akan tetapi, usahanya menemui kegagalan karena datangnya bantuan dari Eropa dan serbuan bangsa Mongol di bawah pimpinan Timur Lenk.
Selepas Daulah Utsmaniyyah mencapai perkembangan yang lebih maju dan terarah, semangat jihad hidup kembali. Sultan Murad II (824-863 H/1421-1451 M) meneruskan usaha penaklukan Kostantinopel. Beberapa usaha berhasil dibuat untuk mengepung kota itu tetapi belum membuahkan hasil. Sultan Murad II mewariskan perjuangan penaklukan Konstatinopel kepada anak beliau, Sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmed II).
Setelah proses persiapan yang teliti, akhirnya pasukan Sultan Muhammad Al-Fatih tiba di kota Konstantinopel pada hari Kamis 26 Rabiul Awal 857 H atau 6 April 1453 M. Muhammad II mengirim surat kepada Paleologus untuk masuk Islam atau menyerahkan penguasaan kota secara damai atau perang. Constantine Paleologus menjawab tetap mempertahankan kota dengan dibantu oleh Kardinal Isidor, Pangeran Orkhan dan Giovanni Giustiniani dari Genoa.
Sebelum menaklukkan Konstantinopel, ada khutbah yang disampaikan al Fatih untuk seluruh pasukannya:
“Jika penaklukan kota Konstantinopel sukses, maka sabda Rasulullah SAW telah menjadi kenyataan dan salah satu dari mukjizatnya telah terbukti, maka kita akan mendapatkan bagian dari apa yang telah menjadi janji dari hadits ini, yang berupa kemuliaan dan penghargaan. Oleh karena itu, sampaikanlah pada para pasukan satu persatu, bahwa kemenangan besar yang akan kita capai ini, akan menambah ketinggian dan kemuliaan Islam. Untuk itu, wajib bagi setiap pasukan, menjadikan syariat selalu didepan matanya dan jangan sampai ada diantara mereka yang melanggar syariat yang mulia ini. Hendaknya mereka tidak mengusik tempat-tempat peribadatan dan gereja-gereja. Hendaknya mereka jangan mengganggu para pendeta dan orang-orang lemah tak berdaya yang tidak ikut terjun dalam pertempuran”
Benteng kota Konstatinopel memang sulit ditembus, selain di sisi luar benteng pun dilindungi oleh parit 7 m. Dari sebelah barat melalui pasukan altileri harus membobol benteng dua lapis, dari arah selatan laut Marmara pasukan laut harus berhadapan dengan pelaut Genoa pimpinan Giustiniani dan dari arah timur armada laut harus masuk ke selat sempit Golden Horn yang sudah dilindungi dengan rantai besar hingga kapal perang ukuran kecil pun tak bisa lewat.
Berhari-hari hingga berminggu-minggu benteng Byzantium tak bisa jebol, kalaupun runtuh membuat celah pasukan Constantine mampu mempertahankan celah tersebut dan dengan cepat menumpuk kembali hingga tertutup. Usaha lain pun dicoba dengan menggali terowongan di bawah benteng, cukup menimbulkan kepanikan kota, namun juga gagal. Hingga akhirnya sebuah ide yang cemerlang muncul. Salah satu pertahanan yang agak lemah adalah melalui selat Golden Horn yang sudah dirantai. Ide tersebut akhirnya dilakukan, yaitu memindahkan kapal-kapal melalui darat untuk menghindari rantai penghalang. Alhasil, hanya dalam semalam, 70-an kapal bisa memasuki wilayah selat Golden Horn.
29 Mei, setelah sehari istirahat perang Muhammad II kembali menyerang total, diiringi hujan dengan tiga lapis pasukan, irregular di lapis pertama, Anatolian Army di lapis kedua dan terakhir pasukan Yanisari.
Giustiniani sudah menyarankan Constantine untuk mundur atau menyerah tapi Constantine tetap konsisten hingga gugur di peperangan. Kabarnya Constantine melepas baju perang kerajaannya dan bertempur bersama pasukan biasa hingga tak pernah ditemukan jasadnya. Giustiniani sendiri meninggalkan kota dengan pasukan Genoa-nya. Kardinal Isidor sendiri lolos dengan menyamar sebagai budak melalui Galata, dan Pangeran Orkhan gugur di peperangan.
Ketika Konstantinopel telah jatuh ke tangan pasukan Islam, penduduk kota berbondong-bondong berkumpul di Hagia Sophia, dan Sultan Muhammad II memberi perlindungan kepada semua penduduk, baik Islam, Yahudi ataupun Kristen. Hagia Sophia pun akhirnya dijadikan masjid dan gereja-gereja lain tetap sebagaimana fungsinya bagi penganutnya.
Diceritakan bahwa tentara Sultan Muhammad Al Fatih tidak pernah meninggalkan salat wajib sejak baligh dan separuh dari mereka tidak pernah meninggalkan salat tahajjud sejak baligh. Hanya Sultan Muhammad Al Fatih saja yang tidak pernah meninggalkan salat wajib, tahajud dan rawatib sejak baligh hingga saat kematiannya.
Suatu hari timbul permasalahan kecil ketika pasukan islam hendak melaksanakan shalat jum’at untuk yang pertama kalinya di kota itu yaitu, “Siapakah yang layak menjadi imam shalat jum’at?”
Tak ada jawaban. Tak ada yang berani yang menawarkan diri. lalu Muhammad Al Fatih tegak berdiri. Beliau meminta kepada seluruh rakyatnya untuk bangun berdiri.
Kemudian beliau bertanya, “Siapakah diantara kalian yang sejak remaja, sejak akhil baligh hingga hari ini pernah meninggalkan meninggalkan shalat wajib lima waktu, silakan duduk!”
Tak seorangpun pasukan islam yang duduk. Tentara islam pimpinan Muhammad Al Fatih sejak masa remaja mereka hingga hari itu, tak pernah satu kali pun meninggalkan shalat fardhu.
Lalu Muhammad Al Fatih kembali bertanya, “Siapa diantara kalian yang sejak baligh dahulu hingga hari ini pernah meninggalkan shalat sunah rawatib? Kalau ada yang pernah meninggalkan shalat sunah sekali saja silakan duduk!”.
Sebagian pasukan kemudian duduk, artinya, pasukan islam sejak remaja mereka ada yang teguh hati, tidak pernah meninggalkan shalat-shalat rowatib. Namun ada yang pernah meninggalkanya. Betapa kualitas karakter dan keimanan mereka sebagai muslim sungguh bernilai tinggi, sungguh jujur, pasukan islam pimpinan Al Fatih.
Muhammad Al Fatih kembali bertanya: “Siapa diantara kalian yang sejak masa akhil baligh sampai hari ini pernah meninggalkan shalat tahajud di kesunyian malam? Yang pernah meninggalkan atau kosong satu malam saja, silakan duduk!”
Semua yang tadinya berdiri segera duduk. Hanya ada seorang saja yang tetap tegak berdiri. Siapakah dia? dialah, Sultan Muhammad Al Fatih, sang penakluk benteng super power Byzantium Konstantinopel. Beliaulah yang pantas menjadi imam shalat jumat hari itu. Karena hanya Al Fatih seorang yang sejak remaja selalu mengisi butir-butir malam sunyinya dengan bersujud kepada Allah SWT, tidak pernah kosong atau absen semalampun.
Sebagai sebuah wasiat untuk anaknya yang akan meneruskan kepemimpinan, maka Al Fatih menyampaikan wasiat kepada anaknya:
“Aku sudah diambang kematian. Tapi aku berharap aku tidak kawatir, karena aku meninggalkan seseorang sepertimu. Jadilah seorang pemimpin yang adil, shalih dan penyayang. Rentangkan pengayomamu untuk rakyatmu, tanpa kecuali, bekerjalah untuk menyebarkan islam. Karena sesungguhnya itu merupakan kewajiban para penguasa di muka bumi. Dahuluklan urusan agama atas apapun urusan lainnya. Dan janganlah kamu jemu dan bosan untuk terus menjalaninya. Janganlah engkau angkat jadi pegawaimu mereka yang tidak peduli dengan agama, yang tidak menjauhi dosa besar, dan yang tenggelam dalam dosa. Jauhilah olehmu bid’ah yang merusak. Jagalah setap jengkal tanah islam dengan jihad. Lindungi harta di baitul maal jangan sampai binasa. Janganlah sekali-kali tanganmu mengambil harta rakyatmu kecuali dengan cara yang benar sesuai ketentuan islam. Pastikan mereka yang lemah mendapatkan jaminan kekuatan darimu. Berikanlah penghormatanmu untuk siapa yang memang berhak.”
“Ketahuilah, sesungguhnya para ulama adalah poros kekuatan di tengah tubuh negara, maka muliakanlah mereka. Semangati mereka. Bila ada dari mereka yang tinggal di negeri lain, hadirkanlah dan hormatilah mereka. Cukupilah keperluan mereka.”
“Berhati-hatilah, waspadalah, jangan sampai engkau tertipu oleh harta maupun tentara. Jangan sampai engkau jauhkan ahli syari’at dari pintumu. Jangan sampai engkau cenderung kepada pekerjaan yang bertentangan dengan ajaran islam. Karena sesungguhnya agama itulah tujuan kita, hidayah itulah jalan kita. Dan oleh sebab itu kita dimenangkan.”
“Ambilah dariku pelajaran ini. Aku hadir ke negeri ini bagaikan seekor semut kecil. Lalu allah memberi nikmat yang besar ini. Maka tetaplah di jalan yang telah aku lalui. Bekerjalah untuk memuliakan agama islam ini, menghormati umatnya. Janganlah engkau hamburkan uang negara, berfoya-foya, dan menggunakannya melampaui batas yang semestinya. Sungguh itu semua adalah sebab-sebab terbesar datangnya kehancuran.”
Muhammad al-fatih adalah sebuah keperibadian yang luar biasa. Seorang pemimpin negara yang cerdas sekaligus sebagai pemimpin perang yang tangguh bagi para tentaranya di medan pertempuran. Disisi lain dia juga seorang ‘alim dan tawadduk dalam hidupnya. Selalu mengutamakan urusan agama diatas urusan dunia. Selalu mendirikan pilar-pilar agama atas diri, tentara dan rakyatnya, baik itu yang wajib ataupun yang sunnah.

Al-Fatih adalah seorang pemimpin idaman umat masa kini. Wallahua’lam...
(di ambil dari sebuah artikel)

Kamis, 26 Maret 2015

Mensucikan Hati

Menjaga Hati
Menjaga Hati
Suatu hari para Sahabat radiayallahu’anhum berkumpul dalam suatu majlis bersama Rasulullah SAW. Dalam suasana mendengarkan nasihat Rasulullah, tiba-tiba Beliau SAW. berkata kepada para sahabat, “Lihat, akan datang seorang ahli surga di majlis kita ini.” Para sahabat yang mendengar perkataan Rasulullah tersebut menjadi penasaran dan ingin tahu bagaimana rupa sosok ahli surga yang dimaksudkan Beliau. Setelah menunggu berberapa saat – dalam rasa penasaran dan keingintauan para sahabat – datanglah seorang laki-laki yang berpenampilan biasa membawa sandal di tangannya. Terlihat dari muka laki-laki tersebut bahwa dia baru selesai berwudu dan ingin bergabung mengikuti majlis Rasulullah. Rasulullah yang melihat kedatangan laki-laki tersebut, mengisyaratkan kepada sahabat-sahabat bahwa dialah orangnya. Para sahabat menjadi berambah penasaran karena orang yang disebut ahli surga biasa-biasa saja. Tidak ada yang istimewa dari rupa dan penampilannya. Dalam hati mereka bertanya-tanya apa gerangan yang menjadikan laki-laki ini disebut Rasulullah menjadi ahli surga, amalan ibadah apa yang dilakukan atau pekerjaan apa yang di perbuat atau mungkin ada kelebihan lain yang dimilikinya. Berbagai macam pertanyaan berkecamuk dalam dada para sahabat.
Saat majlis bersama Rasulullah selesai, salah satu sahabat yang sangat penasaran dengan laki-laki tersebut yaitu Abdullah Ibnu Umar ingin mengetahui lebih dekat bagaimana kehidupan sehari-hari laki-laki tersebut. Setelah para sahabat pulang ke rumah masing-masing, Abdullah ibnu Umar mengikuti laki-laki itu ke rumahnya. Ketika sampai dirumahnya, Abdulullah bin Umar minta izin kepada laki-laki tersebut untuk menginap dirumahnya selama tiga malam dan dengan rasa senang hati dan bangga, laki-laki itupun mengizinkannya karena dia tau Abdullah ibnu Umar sahabat terdekat Rasulullah SAW.
Setelah sehari, dua hari sampai hari terahir di rumah laki-laki itu, Abdullah ibnu Umar tidak melihat hal-hal yang luar biasa dari amalan ibadah atau pekerjaan laki-laki tersebut. Dia melihat ibadah laki-laki tersebut biasa-biasa saja. Malahan, ketika tengah malam tiba, laki-laki itu hanya bagun shalat tahajjud beberapa rekaat saja, tidak seperti sahabat-sahabat yang lain, jika mendirikan shalat tahajjud sepanjang malam penuh hingga waktu subuh tiba. Tapi laki-laki ini, biasa-biasa saja. hingga akhirnya Abdullah bin Umar memaksakan diri untuk bertanya, wahai fulan, beberapa hari yang lalu ketika saya dan para sahabat yang lain bersama Rasulullah di majlis beliau menyebut anda sebagai ahli surga. Kira-kira amalan apa yang ada lakukan hingga anda disebut sebagai ahli surga? mungkin kami bisa mengambil manfaat dari amalan anda tersebut.” Laki-laki yang mendengar pertanyaan Abdullah ibnu Umar merasa bahagia dan sekaligus bingung. Ia bahagia karena disebut sebagai ahli surga dan bingung karena ia merasa amalan ibadahnya biasa-biasa saja. Tidak seperti sahabat-sahabat dekat Rasulullah yang lain. Ia pun berkata, “saya tidak memiliki amalan-amalan ibadah khusus atau lebih. Saya merasa amalan ibadah yang saya lakukan biasa-biasa saja. Jika dibandingkan dengan sahabat-sahabat terdekat Rasulullah yang lebih dulu berjuang besama beliau, tentu saya ini tidak sebanding dengan keutamaan dan amalan ibadah mereka.” Mendengar jawaban laki-laki tersebut, Abdullah Ibnu Umar semakin penasaran. Namun penasarannya ia pendam. Dalam kepenasarannya, Abdullah ibnu Umar pun ingin pamitan pulang karena waktu menginapnya telah habis sebagaimana permintaannya tiga hari yang lalu. Saat handak pergi, laki-laki tersebut memanggil Abdullah Ibnu Umar, kemudian ia berkata, “mungkin ini amalan yang menjadikan saya disebut sebagai ahli surga oleh baginda Rasulullah SAW, yaitu tiap malam sebelum saya tidur, saya berusaha memaafkan dan melupakan semua kesalahan atau kekeliruan yang dilakukan oleh orang kepada saya. Saya mencoba mengikhlaskan dan memaafkannya. Dan juga saya meminta kepada Allah SWT, semoga orang-orang yang berbuat zholim kepada saya diampuni dosanya dan mereka dimasukkan kedalam surga-Nya.” Mendengar penjelasan laki-laki tersebut, Abdullah Ibnu Umar tersenyum dan faham bahwa amalan itulah yang mengantarkan laki-laki tersebut menjadi ahli surga.
Subhanallah.., semoga kita menjadi orang yang mengikhlaskan dan memaafkan kesalahan dan kekeliruan saudara-saudara kita. Amiin..

(sambil nulis thesis di asrama tercinta pasca sarjana UNIDA Gontor, malam jum’at, 26-032015)